FAQ

Frequently
Asked Questions
Yahshua Ha-Mashiach

Frequently Asked Questions

Theology

  1. Apakah Nasrani percaya Yesus sebagai Tuhan atau manusia, atau kedua-duanya ? Bagaimana pula dengan Trinitas ?
    Pemikiran tentang apakah Yesus Tuhan atau manusia telah menjadi bahan perdebatan selama berabad-abad. Di dalam Yudaisme jelas tidak dikenal konsep Tuhan yang menjelma sebagai manusia maupun konsep tentang Trinitas. Adalah berbahaya jika kita mencoba untuk memahami Elohim orang Ibrani dengan cara-cara yang non-Ibrani (Yunani/Romawi). Nasrani mengakui ketuhanan Yesus tetapi bukan seperti dalam pengertian Kristen. Ketuhanan Yesus senantiasa harus dimengerti di dalam framework Taurat. Tidak ada penjelasan yang mudah untuk itu. Saya mempersilakan anda untuk membaca penjelasan kami tentang hal ini yang diturunkan dalam tiga rangkaian artikel:

    1. Pengantar Ketuhanan dalam Kabbalah
    2. Ketuhanan Yeshua dalam pemahaman Ibrani
    3. Yeshua Firman TUHAN yang hidup

    Silakan pula membaca “Pernyataan Iman” kami.

Soteriology

  1. Bagaimana pandangan anda tentang Keselamatan ?
    Kami diselamatkan oleh iman kami kepada Yeshua Anak Elohim – BUKAN karena perbuatan kami memelihara Taurat. Keselamatan adalah “karunia cuma-cuma” dari Elohim untuk umat-Nya.
    Persamaan yang harus dimengerti adalah:
    Iman + Tanpa hal lain = Keselamatan
    Inilah yang senantiasa diajarkan di dalam Taurat, sejak permulaan dunia sampai hari ini. Silakan pula membaca “Pernyataan Iman” kami.

Torah

  1. Mengapa anda memelihara Taurat ?
    Pertama-tama, perlu diluruskan bahwa Taurat dalam bahasa Ibraninya TORAH yang artinya “pengajaran”.
    Siapa yang mengajar ? TUHAN.
    Untuk siapa Taurat diberikan ? Untuk orang-orang yang telah ditebus menjadi umat-Nya.
    Untuk apa Taurat diberikan ? Untuk menunjukkan mana yang kudus mana yang tidak kudus, mana yang baik mana yang jahat.
    Supaya apa ? Supaya baik keadaanmu (Ul 4:40). Supaya kita mengerti bagaimana hidup kudus di hadapan-Nya (Im 19:2).
    Kami memelihara Taurat karena:

    1. TUHAN Elohim telah memerintahkannya kepada kita (Im 18:5, Yos 1:8, Yeh 20:19-20)
    2. Kami mencintai-Nya. Yeshua berkata: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yoh 14:15)

     

  2. Apakah anda bermaksud mengatakan bahwa kita sebagai orang percaya harus menjalankan semua perintah Taurat yang ada dan dengan begitu kembali menempatkan kita dalam belenggu hukum ? Bukankah Kristus telah meniadakan itu semua demi kita ?
    Perlu diingat terlebih dahulu bahwa apa yang sedang anda bicarakan adalah Hukum Elohim, perintah-perintah dan ketetapan-ketetapan yang diberikan oleh Elohim. Taurat TUHAN adalah sempurna dan murni (Maz 19:7-8). Hukum Taurat itu kudus dan perintah itu juga kudus, benar dan baik (Rom 7:12). Taurat adalah kumpulan pengajaran Tuhan bagaimana umat-Nya (Yahudi maupun bukan) hidup, “supaya baik keadaanmu” (Ul 4:40). Sebagai umat-Nya, kita diberikan tanggung-jawab khusus seperti Tuhan sudah berfirman, “Kuduslah kamu sebab Aku, TUHAN, Elohimmu kudus.” (Im 19:2) Disinilah Taurat berfungsi yaitu menunjukkan cara bagaimana hidup kudus di hadapan Tuhan. Tidak ada itu yang dinamakan belenggu hukum. Yang ada adalah belenggu dosa. Kristus telah membebaskan kita dari belenggu dosa.
  3. Orang Yahudi mengerjakan hukum Taurat supaya diselamatkan. Bukankah anda sama saja dengan mereka ?
    Anda keliru. Pandangan bahwa Yudaisme mengajarkan bahwa manusia diselamatkan karena mengerjakan Taurat adalah tidak benar. Sepanjang zaman tentu ada saja kelompok tertentu dalam tubuh Yudaisme yang mengajarkan hal yang tidak betul. Tetapi ajaran atau tingkah-laku dari kelompok itu tidak mengubah apa yang Yudaisme selalu ajarkan. Contoh kasus yang paling baik ditemukan dalam diri Daud. Tuhan menghakimi Daud atas dasar imannya dan keinginannya untuk melakukan Taurat, bukan atas dasar kemampuannya memegang setiap detil perintah. Tidak ada seorang pun yang pernah diselamatkan karena kemampuan mereka mengerjakan Taurat. (Untuk lebih jauh, anda dapat membacanya dalam buku yang diterbitkan oleh Komunitas Nasrani “Tidak Tunduk Kepada Hukum Tuhan?”.)
  4. Bukankah menjalankan setiap detil perintah Taurat adalah upaya sia-sia untuk memperoleh keselamatan ?
    Ini adalah suatu miskonsepsi. Orang Kristen telanjur memandang bahwa mengerjakan hukum Taurat adalah suatu upaya sia-sia untuk “memperoleh keselamatan”. Yudaisme tidak memfokuskan diri kepada pertanyaan bagaimana cara untuk masuk surga. Yudaisme berfokus kepada kehidupan (sekarang) dan bagaimana menjalani hidup ini. Ketika kami menjalankan perintah Elohim, kami tidak memikirkan pahala apa yang bakal kami dapat. Ini semata-mata karena masalah kewajiban moral dan wujud pernyataan cinta kasih kami kepada Tuhan. Jika boleh saya kutip, salah satu kata bijak yang tercatat dalam Pirkei Avot adalah :“Be not like servants who serve their master for the sake of receiving a reward; instead, be like servants who serve their master not for the sake of receiving a reward, and let the awe of Heaven be upon you.” (Mishnah Avos 1:3)
  5. Bagaimana dengan perintah-perintah seperti sunat, memakai jumbai pada jubah kita, tidak makan babi, merajam orang-orang yang berzinah sampai mati, bukankah itu semua tidak relevan lagi dalam kehidupan modern ?
    Taurat mempunyai perintah-perintah di dalamnya yang hanya diterapkan di atas negeri Israel yang teokrasi (catatan: negara Israel modern bukanlah negara teokrasi). Taurat juga mempunyai aturan-aturan yang hanya diterapkan untuk para imam, dan ada juga yang hanya untuk Imam Besar. Ada perintah-perintah khusus untuk pria dan khusus untuk wanita – dan juga untuk yang sudah menikah dan yang belum menikah. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Taurat juga cukup fleksibel dan dinamis dengan memberikan ruang yang luas bagi terjadinya perubahan-perubahan atau amandemen menurut rencana Tuhan yang sempurna. Paulus mengajarkan hal yang sama. Ia juga mengajarkan Timotius untuk “bertekun” dalam kitab suci – artinya selalu ada cara untuk “memecahkan masalah” – menurut Taurat ! Beberapa perintah yang pada mulanya nampak “tidak berguna” seperti sunat misalnya, ternyata baru diketahui dampak positifnya dalam dunia kedokteran masa kini yakni dapat meniadakan resiko terkena kanker. Kelak pada masa 1000 tahun, ketika Mesias memerintah dan negara teokrasi kembali ditegakkan, seluruh perintah di dalam hukum Taurat akan diberlakukan kembali.
  6. Bagaimana dengan perintah hari Sabat?
  7. Bagaimana dengan perintah persembahan korban?
  8. Bukankah dalam Perjanjian Baru sudah tidak ada lagi larangan terhadap makanan haram ?

Kitab Suci

  1. Apa kitab suci orang Nasrani itu?
    Kitab Suci Nasrani adalah TaNaKh yang terdiri atas tiga kelompok kitab:

    1. Torah (Taurat)
    2. Neviim (kitab para nabi)
    3. Kethuvim (tulisan-tulisan), termasuk ke dalamnya adalah Kethuvim Netzarim atau yang lebih dikenal sebagai “Perjanjian Baru”. Kethuvim Netzarim terdiri atas:
      • Besorah (Injil)
      • Shaliachim (Kisah dan Surat Para Rasul)

    Total kitab: 66

    Pengelompokan di atas disusun berdasarkan tingkatan kewenangan kitab. Tingkatan kewenangan ini dibangun atas asas kitab yang datang kemudian harus mendukung kitab yang terdahulu. Torah berada pada tingkat teratas sebab ia adalah kitab yang pertama. Kitab para nabi harus mendukung Torah, sementara Kethuvim harus mendukung pertama-tama Torah dan kemudian kitab para nabi. Berdasarkan asas demikian maka penafsiran “Perjanjian Baru” haruslah berdasarkan Torah dan kitab para nabi, bukan sebaliknya.

    Untuk lebih jelasnya silakan lihat penggolongan Kitab Suci Nasrani.

     

Messianica

  1. Bagaimana anda bisa mengatakan Nasrani berbeda dengan Kristen ? Bukankah dalam Kis 11:26 para pengikut Yesus yang mula-mula juga disebut Kristen ?
    Pada mulanya memang tidak ada perbedaan antara istilah Nasrani dengan Kristen yang muncul belakangan di luar Yudea (c.58 M). Sebenarnya istilah yang digunakan oleh para pengikut Yesus yang mula-mula untuk menyebut diri mereka sendiri adalah pengikut “Jalan Tuhan” (Kis 9:2,13:10,18:25,
    19:9,19:23,22:4-5,24:14,24:22) atau “Jalan Elohim” (Mat 22:16, Luk 20:21, Kis 18:26) atau “Jalan Kebenaran” (2 Pet 2:2,21). Selain itu juga dikenal istilah Evyonim (Kaum Miskin). Istilah Nasrani (Netzarim) sendiri berasal dari kalangan Yahudi untuk menyebut para pengikut Yesus sampai hari ini. Di awal dikatakan bahwa pada mulanya tidak ada perbedaan di antara istilah-istilah itu. Para pengikut Yesus yang mula-mula tetap beribadah menurut hukum Taurat dan tidak meninggalkan keyahudian mereka. Hal ini diperjelas dalam Kis 24:5 dan 24:14 bahwa orang Nasrani tidak lebih dan tidak bukan dari sekedar sekte dalam tubuh Yudaisme.
  2. Mengapa Nasrani dikatakan sebagai sebuah sekte ?
    Sekte berasal dari kata cesare yang artinya “dipisahkan”. Pemakaian kata “sekte” terhadap orang Nasrani berangkat dari keberadaan sektarianisme pada tubuh Yudaisme di masa Perjanjian Baru. Pada masa itu Yudaisme terbagi-bagi ke dalam beberapa sekte seperti: sekte Farisi yang adalah sekte paling besar; lalu ada sekte Saduki yang dipenuhi oleh pendukung Hellenis dan yang memegang otoritas atas Bait Elohim; dan terakhir adalah sekte Esseni yang berdiam di pedalaman-pedalaman. Orang Nasrani dikatakan sebagai sebuah sekte oleh karena kekukuhan iman mereka terhadap Yeshua Ha-Mashiach sehingga membuat mereka “dipisahkan” (baca: dibedakan) dari golongan Yahudi lainnya. Setelah keruntuhan Bait Elohim (70 M), praktis hanya sekte Farisi dan sekte Nasrani yang dapat bertahan. Para pemuka Farisi yang berkedudukan di Javneh (90 M) kemudian mengklaim sebagai satu-satunya Yudaisme yang lurus (orthodoks) sekaligus memutuskan sekte rival mereka sebagai bidah. Sebuah benediction ditambahkan ke dalam doa Amidah untuk menghalangi orang Nasrani untuk dapat berpartisipasi di dalam sinagoga mereka. Keputusan ini kemudian turut mendorong orang Nasrani yang non-Yahudi untuk menciptakan “agama” baru yang benar-benar lepas dari Yudaisme.
  3. Dapatkah anda menceritakan secara singkat bagaimana terjadinya perpisahan dan perbedaan antara Nasrani dengan Kristen ?
    Pewartaan Injil pada akhirnya sampai kepada orang-orang bukan Yahudi di luar Yudea. Keberadaan orang-orang bukan Yahudi ini kemudian menghantarkan Nasrani masuk ke dalam sebuah tahapan baru; yakni bagaimana mereka (para rasul dan orang-orang Yahudi lainnya) bersikap terhadap orang-orang asing tersebut. Dan hal ini diakui bukan tidak menciptakan persoalan. Konsili rasuli di Yerusalem (Kis 15) lalu diadakan untuk menyelesaikan persoalan ini. Tetapi sepeninggal para rasul, muncul oknum-oknum tertentu dalam komunitas orang percaya yang menyebarkan gagasan-gagasan anti Yahudi, seperti yang dilakukan oleh Marcion (c.84-160) yang mengeluarkan gagasan tentang dua tuhan (tuhan PL/tuhan Yahudi yang jahat dan tuhan PB/tuhan Kasih yang baik), atau Yustinus Martyr (c.138-161) yang menulis tentang keburukan syariat Taurat. Oknum-oknum demikian dengan cepat menempati posisi-posisi penting dalam tubuh jemaat. Perlu dimengerti bahwa mereka berasal dari dunia yang sangat membenci kepercayaan yang dianut oleh bangsa Yahudi. Menurut dunia Romawi sangat tidak masuk akal menyembah Elohim yang tidak kelihatan, tidak memakan daging babi dan tidak berdagang pada satu hari yang ditentukan (Sabat). Apion, sastrawan Romawi yang termasyhur pada masa itu bahkan menduga alasan bangsa Yahudi tidak memakan daging babi adalah karena Elohim mereka adalah seekor babi. Bangsa Yahudi dikatakan pula sebagai sebuah bangsa budak yang berhasil terlepas dari penyakit kusta. Mereka yang masih dipengaruhi oleh latar belakang ini kemudian menciptakan kesan keliru terhadap apa yang disampaikan oleh Mesias dan para rasul. Banyak sekali tulisan-tulisan Paulus (terutama surat Galatia) yang kemudian disalah-gunakan sebagai pembenaran untuk menyebut bangsa Yahudi sebagai “Christ Killer”.Kekalahan bangsa Yahudi dalam dua kali perang melawan Roma (66-70 dan 130-135) membuat orang Yahudi menjadi sasaran kebencian di seluruh Romawi. Hal ini menciptakan peluang bagi golongan bukan Yahudi untuk meraih suara mayoritas di dalam tubuh jemaat sebab pemimpin-pemimpin jemaat yang kebanyakan adalah orang Yahudi sekarang tidak dapat berpartisipasi secara normal. Adalah berbahaya kini bagi seseorang untuk hidup sebagai Yahudi. Jauh lebih menguntungkan sekarang jika mereka memakai nama “Kristen”. Mereka tidak akan lagi digolongkan sebagai Yahudi dan nama itu menolong mereka terlepas dari amukan kemarahan orang Romawi terhadap bangsa Yahudi. Sebagai “agama” bukan Yahudi tentunya mereka tidak lagi perlu mengikuti “kebiasaan” orang Yahudi dalam menjalankan syariat Taurat. Serangkaian gagasan teologi baru kemudian diperkenalkan untuk memperkuat argumen ini. Misalnya ide untuk tidak merayakan Paskah pada tanggal 14 Nissan seperti kebiasaan orang Yahudi (yang sebenarnya bukan kebiasaan Yahudi melainkan ketetapan TUHAN) dengan menggeser Paskah untuk selalu jatuh pada hari Minggu. Teologi baru ini juga melancarkan proses akulturisasi antara peribadatan Kristen dengan peribadatan paganisme mereka yang lampau, dimana hal ini tidak akan terjadi apabila mereka senantiasa berpegang kepada Taurat TUHAN.Namun tidak demikian halnya dengan komunitas orang percaya yang tetap setia kepada pesan Mesias. Mereka memilih untuk berpindah ke daerah-daerah Timur seperti Suriah, Irak, Arab, Ethiopia, Persia dan India demi menghindari jangkauan tangan Romawi. Selama berabad-abad mereka mempertahankan identitas mereka sebagai orang Nasrani. Mereka dikenal dengan sebutan Messiahan (pengikut Mesias) dan juga Beni-Israel. Menurut kesaksian Bapa-bapa Gereja (i.e. Epiphanius dan St. Jerome), orang Nasrani ini tetap menjalankan syariat Taurat dan memelihara Injil sebagaimana Injil itu pertama kali ditulis. Sekarang keturunan mereka dapat ditemukan dalam jemaat Assyrian Church of The East.
  4. Apakah ini semacam gabungan kepercayaan antara Yudaisme dengan Kristen ?
    Tidak sama sekali. Kami percaya bahwa Yeshua ha-Mashiach tidak datang untuk membawa atau mendirikan agama baru melainkan datang untuk menghantarkan kita kepada pemahaman yang sempurna tentang Taurat-Nya. Pada zaman Perjanjian Baru, ada berbagai macam aliran Yudaisme seperti Farisi, Saduki dan Esseni. Masing-masing mempunyai seperangkat aturan dan ketetapan yang disebut dengan halakha (arti harafiah: jalan hidup) yang berlaku bagi para pengikut mereka. Halakha ini dirumuskan oleh Beit Din (mahkamah agama) masing-masing. Sama halnya pula dengan para pengikut Yeshua, mereka juga memiliki halakha tersendiri yakni halakha yang diajarkan langsung oleh Mashiach (Yoh 14:36). Jadi orang sekte Nasrani tidak tunduk kepada halakha sekte Farisi atau apalagi sekte Saduki, melainkan hanya tunduk kepada halakha Mashiach (Mat 23:8). Sepeninggal Yeshua, otoritas halakha ini dilimpahkan kepada Beit Din Nasrani di bawah karunia Roh Kudus. Seperti layaknya Beit Din pada masa itu, Beit Din Nasrani dipimpin oleh seorang Nasi dan seorang Av Beit Din. Nasi yang pertama adalah Yakobus, saudara Yeshua dan yang menjadi Av Beit Din-nya, rasul Petrus (Kis 15, Gal 2:9). Beribu-ribu orang Yahudi di masa itu masuk menjadi anggota sekte Nasrani (Kis 21:20). Mereka semua tunduk kepada apa yang ditetapkan oleh Beit Din ini, termasuk pula Paulus, yang disebut sebagai ring leader dari sekte tersebut (Kis 24:5). Berlawanan dengan itu, orang Yahudi pada masa sekarang tunduk kepada halakha Farisi yang didokumentasikan di dalam Talmud. Apa yang kita kenal sebagai Yudaisme masa kini adalah Yudaisme ala Farisi, “Rabbinic Judaism”. Hendaknya saudara jangan keliru. Kami juga adalah penganut Yudaisme, bukan Rabbinic Judaism tetapi Yudaisme ala Mashiach: “Messianic Judaism”.
  5. Apakah ini merupakan aliran Ebionit ?
    Jawabnya adalah BUKAN. Ebionit atau Ebionisme berasal dari sekelompok jemaat mula-mula yang disesatkan sehingga mereka hanya mempercayai Yesus sebagai Mesias, tanpa predikat ketuhanan-Nya. Ebionisme juga menolak otoritas kerasulan Paulus dan tidak menggunakan Perjanjian Baru, melainkan Injil Matius versi mereka sendiri (minus kisah kelahiran perawan). Saya memahami jika banyak orang keliru dengan aliran ini. Bahkan pakar sejarah Israel terkenal seperti Hyam Maccobi pun bisa salah dengan menyamakan antara Nasrani dengan Ebionisme ini. Padahal keduanya adalah dua entitas yang berbeda. Untuk lebih jelasnya silakan baca artikel ini: Nazarenes were not Ebionism proven.
  6. Saya tidak mengerti. Jika iman Kristen yang saya anut selama ini salah, mengapa Tuhan membiarkan kesalahan ini terus menerus kepada berjuta-juta orang selama berabad-abad ?
    Anda berpikir menurut logika kuantitas. Dalam Lukas 13:22-30, Yesus mengatakan bahwa jalan yang Ia tawarkan bukanlah jalan yang lebar melainkan jalan yang sempit. “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu”, demikian kata Yesus. Sepanjang masa, ribuan orang berusaha untuk masuk tetapi mereka tidak dapat. Mengapa ? Karena mereka gagal bertumbuh dalam iman mereka dengan melupakan dan mengabaikan Taurat-Nya.“Blessed are they that do His commandments, that they may have right to the tree of life, and may enter in through the gates into the city.” (King James Bible, Wahyu 22:14)
  7. Apakah jemaat Nasrani boleh melakukan kebaktian pada hari Minggu ?
    Jemaat Nasrani bebas beribadah pada hari apapun. Bahkan sesungguhnya kami melakukannya setiap hari. Akan tetapi jika pengertian ibadah hari Minggu diartikan sebagai ibadah pengganti hari Sabat maka hal ini tidak dibenarkan.
    Untuk lebih jelasnya, Yudaisme menganut pandangan demikian:

    1. Hari Sabat dimulai pada Jum’at pk.6 petang dan berakhir pada hari Sabtu pk.6 petang. Kita tidak boleh menggantikannya dengan hari lain. Ini adalah perintah Elohim.
    2. Ibadah yang kita lakukan pada keenam hari lainnya harus berbasiskan konteks iman di dalam Taurat. Kita tidak diperbolehkan untuk beribadah di tempat peribadatan lain.
    3. Kita bebas beribadah kepada TUHAN pada hari apapun dan sesungguhnya kita beribadah kepada-Nya setiap hari. Namun demikian hari Sabat adalah Satu, dan konteks peribadatan harus berbasiskan Taurat.
  8. Benarkah Komunitas Nasrani merupakan penganjur gerakan “kembali ke akar Ibrani” ?
    Itu tergantung dari bagaimana yang anda maksudkan dengan “kembali ke akar Ibrani”. Jika “kembali ke akar Ibrani” diartikan sebagai hendak mengikuti adat-istiadat dan budaya Yahudi, maka tuduhan tersebut sama sekali tidak benar. Mengutip pernyataan Avi Ben Mordechai, salah seorang pengajar Nasrani terdepan, yang juga terkenal dengan acara radionya “Torah Talk”:“I am not a proponent of the “Jewish Roots” or “Hebraic Roots” movement as you or they define the terms. I am a proponent of Torah observance for both Jews and non-Jews…”Komunitas Nasrani tidak pernah menganjurkan adat-istiadat dan budaya Yahudi kepada orang bukan Yahudi. Yang dilakukan oleh Komunitas Nasrani adalah mendorong setiap orang percaya untuk menempatkan Taurat sebagai suatu standar hidup. Komunitas Nasrani mendefinisikan “kembali ke akar Ibrani” sebagai suatu upaya untuk memahami pengajaran Mesias dan para rasul menurut konteks budaya dan pola pikir di mana mereka hidup di dalamnya. Salah satu realisasinya adalah dengan menghadirkan terjemahan Perjanjian Baru yang lebih akurat berdasarkan teks-teks bahasa asli Ibrani dan Aramaik (lihat The Semitic New Testament Project by SANJ).

Judaica

  1. Situs web ini banyak mengutip Talmud dan literatur-literatur post-biblikal Yahudi lainnya. Apakah anda menganggap mereka sebagai juga kitab suci ?
    Literatur-literatur post-biblikal Yahudi adalah literatur yang dihasilkan setelah kitab-kitab Perjanjian Lama selesai ditulis (terakhir kitab Maleakhi c.425 SM). Salah satu contoh literatur tersebut adalah kitab Henokh (c.200 SM) yang dikutip oleh rasul Yehuda (Yudas) di dalam suratnya (Yud 1:9). Tetapi literatur post-biblikal yang paling penting adalah Talmud yang terdiri atas dua bagian: Mishnah dan Gemara. Di dalam Yudaisme Orthodoks, Talmud menempati posisi yang sama pentingnya dengan Taurat sebab Talmud dipandang berisikan “pengajaran lisan” (Torah She-be-al-peh) yang diwariskan oleh Musa kepada tua-tua Israel. “Pengajaran lisan” ini kemudian kelak dikodifikasikan oleh para rabbi Yahudi ke dalam Talmud. Masa penyusunan Talmud boleh dikatakan berbarengan dengan masa penyusunan Perjanjian Baru, tetapi Talmud berlangsung lebih lama (c.37 SM-220 M).
    Walaupun Komunitas Nasrani banyak sekali mengutip apa yang terdapat di dalamnya dan mengakuinya sebagai “kitab yang otoritatif” (karena disusun oleh orang-orang yang berwenang di dalamnya), Talmud sama sekali tidak boleh dipandang mempunyai kesetaraan dengan kitab suci. Talmud hanya dipergunakan sebatas untuk membantu kita memahami apa yang menjadi pemahaman orang Ibrani terhadap Taurat mereka, Elohim mereka, Mesias mereka.
  2. Anda memakai pemahaman Kabbalah dalam artikel anda. Bagaimana pandangan anda terhadap Kabbalah ?
    Kabbalah adalah mistisisme Yahudi seperti halnya sufi di dalam Islam. Dalam Yudaisme Orthodoks masa kini, fondasi Kabbalah terdapat pada tiga kitab penting: Sefer Yetzirah, Bahir dan Zohar. Tetapi Kabbalah sebenarnya sudah ada jauh sebelum ketiga kitab itu ditulis. Kabbalah juga tercermin di dalam manuskrip-manuskrip Laut Mati serta di dalam tulisan-tulisan filsuf Philo. Mistisisme Yahudi ini setidaknya sudah berusia lebih dari 2000 tahun. Pada masa lampau Kabbalah disebut dengan sebutan lain, antara lain Sitrei Torah, Razei Torah dan Torat HaSod. Pada masa itu mistisisme Yahudi dibagi menjadi dua area, masing-masing adalah Ma’aseh Bereshit (berhubungan dengan Penciptaan) dan Ma’aseh Merkavah (berhubungan dengan Tahta-Kereta Ilahi).
    Sama halnya terhadap Talmud dan literatur post-biblikal Yahudi lainnya, Komunitas Nasrani tidak memandang kitab-kitab Kabbalah mempunyai kesetaraan dengan kitab suci. Namun demikian Kabbalah mewarisi apa yang menjadi pemahaman mistis orang Ibrani terhadap TUHAN dan kepercayaan mereka. Mengenal Kabbalah dalam konteks yang benar dapat membantu kita memahami bagaimana Yeshua dimengerti oleh saudara-saudara sebangsa-Nya pada masa itu sebagai Mesias, cahaya kemuliaan (zohar) Elohim dan gambar wujud Elohim.

Jika anda mempunyai pertanyaan, kirimkanlah langsung ke alamat cleartruth@yahoo.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Nazarene Indonesia